Free Shipping +6281232109396

Hingga Semua Nampak Jelas dan Bermakna

9/4

Malam itu langit Surabaya cukup gelap, tidak ada gemerlap bintang, dan bahkan bulanpun malu-malu untuk menunjukan dirinya. Rintik-rintik hujan juga belum selesai sepenuhnya. Malam itu Nampak pekat sebagaimana masa laluku.

Pemuda itu mengambil sebatang nikotin, dibakar dan hisap perlahan. Ia memutuskan untuk keluar dan menikmati hujan. Tidak salah jika dikatakan hujan adalah 99% kenangan dan 1 Persen air, Karene dengan tetesan airnya semua luka dan penyesalan masa lalu terakumulasi.

Selainya dia memang suka hujan, karena hanya disana, dia bisa mebiaskan penyesalan dan air mata. Tanpa tujuan ia pacu sepeda besinya mengelilingi Surabaya. Langkahnya terhenti ketika bertemu bangunan-bangunan kenangan.

dengan gas penuh dan helm tertutup rapat, ia lampiaskan semua keluhnya pada pekatnya malam.

Bodoh! Mungkin itu kata yang mengambarkan dia hari ini, mungkin dia baik secara fisik, tidak ada masalah dengan otak dan bahkan Nampak sehat sehat saja. Namun hati, hatinya teriak dan terluka, hatinya merana.

Dia menepikan sepeda, menghampiri warung kopi yang masih buka, “pak Kopi hitam, tidak pakai gula”. Dia memang termasuk penikmat kopi pahit, baginya gelap dan pekatnya hidup harus di nikmati secara perlahan untuk menemukan kesejatian.

Ditemani nikotin, dan dengan terpejam, dia sedang menikmati alunan lagu yang seolah selaras dengan dirinya!

Masih tersimpan
Fotomu di dompetku
Yang kau berikan
Kala ulang tahunku
Namun terkadang kusembunyikan saat
Aku bersama wanita yang lain

Di belakang KTP
Di belakang NPWP
Di belakang debit BCA
Di saku kanan belakang (HAHA HAHA HAHA)

Di setiap langkah
Arungi ruang dan waktu, rindu ini takkan pernah menepi
Dan bila nanti kau temukan pengganti itu salahku pernah menyakitimu

Ratusan kali ku coba cari ganti
Ribuan kali kucoba buka hati
Ribuan kali kucoba buka hati
Ratusan kali kucoba cari ganti
Ribuan kali kucoba buka hati
Ribuan kali kucoba buka hati
Ribuan kal kucoba buka hati

 

 

Kemudian ia mengambil pena dan kertas kecil yang selalu ia simpan dalam tasnya

Ferguso, membunuh masa lalu memang menyakitkan, terlebih jika itu merupakan kesalahan sendiri. Dan aku sendiripun bahkan lebih dari 3 tahun tidak kunjung hilang. Dan entah dengan berapa wanita lagi kubutuhkan untuk mengisi hati kembali.

Masa laluku kelam, kejam dan bahkan hitam, kita punya dosa masing-masing di masa lalu. Menyesal, tentu iya, namun kita sama paham bahwa waktu selalulah bergerak maju, dan menyesal hanya akan membuat terpuruk dan jalan kebelakang.

Aku dan kamu tentu bukan siapa siapa, kita hanya dua orang asing yang bahkan belum pernal bertemu. Hanya dua orang asing yang mengisi kekosongan, dan hanya dua orang asing yang senasib walau tak seperjuangan. Aku dan kamu berbeda, memiliki masa lalu dan kisah-kisah hati yang berbeda. Kita sama, memiliki egoism tinggi, Keinginan menang sendiri yang besar dan tidak mau kalah, apalagi di salahkan.

Aku sempat bersyukur yang kemudian Tuhan memberikan jalanku bertemu seseorang yang kemudian menjadikanku diri sendiri, tanpa topen dan apa adanya. Namun bukan kemudian aku fatalis, kata dan ucapnya aku dengan dan lakukan. Laku hidupnya aku ikuti, Aksiologi hidupnya juga aku jadikan pedoman. Aku kemudian merasa baik, merasa bertumbuh dan merasa utuh.

Dan bodohnya, hanya karena demi skincare yang lebih glowing dan mahal, hancur sudah tatanan. Tentu aku bukan typical orang yang suka meratap dan meminta welas. Bagiku, seburuk apapun, terjadi haruslah di selesaikan. Selesai harus di tinggalkan.

Aku berbenah, aku berubah dan aku menghilang. Aku hilangkan identitasku sebagai mahasiswa, ku gantung nama dan jabatan politik. Ku memulai hidup baru dan menjadi baru.

Ferguso, kau tahu, cara kita bertutur mengingatkanku padanya, caramu bertutur dan menyampaikan sama persisi hanya lebih tegas. Dan maafkan aku jika kemudian terkadang ada rasa yang tertinggal. Dan akupun paham ceritamu termasuk bagaimana kondisi hatimu.

Aku tidak sedang berfikir lebih, hanya dengan seperti ini saja aku sudah merasa Bahagia dan merasa.

Kitapun sama, banyak kemudian beragam hal negative yang masih melekat, walau ada beragam hal positif lainya. Namun apalagi persahabatan yang lebih indah di bandingkan dengan pembaikan diri masing-masing. Pemersatauan potensi dan pengembangan passion dan mimpi.

Kau tentu ingan yang dikatakan Rahul di film kuch kuch hota hai “Jika dia tidak bisa menjadi sahabatku maka aku tidak bisa mencintainya karena tanpa persahabatan tidak ada cinta di sana”

Namun kemudian aku sadar semua orang memiliki jatidiri dan potensinya masing, tidak kemudian mempersamakan dan bahkan menyama-nyamakan, kita adalah berbeda dan masa depan tidak melulu sama. Termasuk kondisi, potensi dan orang yang menyertai.

Jika pun ditilik kebelakang tentu ini bukan sebuah kebetulan, walau memang berawal dari keisengan. Namun rasa nyaman dan keinginan untuk tampil apaadanya, menjadi pembeda. Aku bisa menjadi apa adanya dan tanpa tendensi hanya kepadamu ya just you. Sebelumnya bahkan dengan orang tua saja, aku berusaha untuk selalu tampil kuat, dan hanya pada dirimu sisi gelapku aku berani ungkap.

**

Seperti mendungnya langit, Masa depan manusia itu masih “abu-abu”, tidak jelas dan terkesan ambigu. Tapi tetap saja memiliki warna, meskipun abu-abu. Ada beragam rahasia dibalik ke-abu-abuan warna didalamnya, semua tersimpan rapi, tersusun teliti, dan bukan sesuatu yang tidak bisa kita jangkau, dia dekat, dia melekat, dia didalam diri, di dalam kedalaman hati.

Hati, ya dalam hati, semua bayangan indah masa depan manusia merupakan representasi dari hatinya sendiri. Sejauh mana kaki melangkah, sejauh mana tangan mengalah, seberapa dalam hati merasa dan seberapa juah akal berkelana, semua merupakan manifestasi diri, manifestasi hati, termasuk iman yang merupakan pondasi awal sejarah dan masa depan diri.

Masa depan sebagai sesuatu yang abstrak hanya bisa baik ketika dibenturkan dengan sesuatu lain yang sama abstraknya. Dan hal yang sama abstrakjnya itu yang akan membentuk paradigma diri, sehingga jelas, hal yang abstrak itu harus benar dan memang merupakan kebenaran. Atau Bahasa lainya agama.

Sampai disini dapat diketemukan, bahwa ada kaitan yang jelas antara masa depan, diri, hati dan agama, empat hal jelas yang harus diperjelas dalam upaya merangkai mimpi.

4/10

Sore itu, matahari Surabaya masih Nampak suram, diiringi dengan dinginya angin yang berhembus, pikiran kalut menjadi sejenak sunyi, hati bimbang menjadi sedikit tenang. Tentram, mungkin itu satu kata yang dapat mengambarkan semuanya.

Di sudut pojok rumah tua itu, pikiranku menerawang, tentang indahnya senja dan pekatnya masa depan, aku selalu berharap masa depan selalu indah seindah senja. Namun pikiran itu langsung saja aku tepis, karena bukan itu tujuan Tuhan menciptakan masa depan ataupun senja. Keduanya bukan untuk digabung-gabungkan, atau bahkan disesalkan. Semuanya adalah indah, seindah Tuhan menciptakan kamu.

Jinganya senja adalah merah yang kembali muda, semangatnya masih sedang membara dan komitemen dan konsistensinya masih menyala-nyala, senjanya sore adalah kebahagiaan, bahkan mungkin senja tercipta ketika tuhan tersenyum bahagia, lembayung indahnya Nampak nyata, warna-warna langit indah sangat mempesona, itulah jinganya senja, begitulah seharusnya indahnya masa depan kita. Iya kita, kamu dan aku hingga semua hal bisa kita lakukan bersama.

Imajiku berhenti ketika, kemudian kita bertukar pesan dengan berujar, “meski sibuk jangan lupa sholat,”.

**

Indah memang ketika berbicara keindahan dunia dengan segenap kebahagiaan didalamya, emm, saya pikir tidak hanya memang tapi HARUS. Bahagia itu bukan keadaan, tapi pilihan. Dan bersyukur adalah kewajiban.

“Jangan menunggu bahagia baru bersyukur tapi beryukurlah maka kamu akan bahagia”, saya selalu ingat kata-katamu itu, kata-kata yang tulus didasarkan dari hati dengan segenap kekhawatiran dan perhatiannya. Bahagia, mungkin itu kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya.

Semoga segala jenis penantian panjang kita, selaras dengan makna yang kita upayakan.

**

Entah kenapa suasana pagi ini agak berbeda, bingung, takut dan tidak mengerti sesuatu apapun, mataku terbuka, masih sangat sayu, namun dengan jelas saya mengerti beragam perbedaan yang muncul dan ada.

Suasana tempat yang selalu saya diami nampak sekali berbeda, interior rumahpun agak berlainan, dinding-dinding kamarku berwarna lain, jingga agak orange, terkesan lebih kalem namun berani, entah sejak kapan pula ada lemari yang cukup besar di pojok ruangan, rasa-rasanya tidak pernah sekalipun aku membeli lemari seperti itu, dan kalaupun membeli sepertinya tidak sangat urgent untuk diriku, aneh memang.

Agak aneh pula ada seperangkat meja dengan beragam aksesoris diatasnya, milik siapa gerangan? Mataku terus berputar mengitari seluruh seisi ruangan, ada rak meja besar dengan koleksi buku yang beragam,

“ahh itu buku-bukuku kenapa disitu?” 

Ehh sepertinya tidak semua buku itu bukuku? Ada beberapa buku baru yang Nampak lain? Siapa pula yang menaruh buku disana? Mataku masih mencoba mencerna seluruh isi ruangan hingga mataku tertuju pada jam dinding yang cukup tua yang berada tepat didepanku, waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi.

Dengan cukup kaget, ada suara yang cukup lembut menyapa,

“Sudah bangun Mas? Kog gak mbangunin adek sih?” tanyaanya dengan wajah manyun sambil sesekali mengusap mata.

“yawudah ayok sholat malam dulu, sekalian persiapan sholat subuh” lanjutnya.

“Enggeh dek”, jawabku dengan agak kaget, dia membalasnya dengan tersenyum kemudian keluar kamar, hingga aku belum sempat menatap wajahnya.

Ups, entah sejak kapan saya memangilnya “dek” dan entah sejak kapan dia tinggal serumah denganku, siapa pula dia?

Pikiranku mulai tidak karuan, tidak jelas orientasi bahkan cenderung membingungkan.

**

Akupun berdiri dan mencoba keluar, kuamati keadaan sekitar. Ada ruang tamu yang tidak begitu luas namun terlihat bersih dan nyaman, terlihat seperangkat kursi yang berwarna seragam dengan warna tembok, ditambah dengan meja yang tepat berada ditengah-tenggah kumpulan kursi itu, serasi sekali.

Kemudian ada beberapa aksesoris yang menempel ditembok yang menambah kesan elegan ruang tamu ini, ada pula banyak foto-foto dipajang di sekeliling tembok ada beberapa foto yang cukup familiar tapi banyak lainya yang asing, mataku langsung tertuju pada sebuah foto yang paling besar dan paling mencolok diruang tamu ini, foto ini berada ditenggah-tenggah ruangan.

Kucoba dekati, terlihat dua orang yang berdiri dengan senyum yang lebar penuh keceriaan, tangan mereka bergandengan, gengamanya terkesan erat namun malu-malu.

“ah sepertinya mereka pengantin baru yang sedang melepas rindu.” pikirku.

Mereka Nampak bahagia, dengan seluruh ekspresi cintanya. Ada semacam rasa yang tersimpan cukup dalam, dibalik senyum merekah mereka, ada semacam kerinduan dalam Bahasa-bahasa kemesraan yang tidak bisa mereka ucapkan. Namun dengan senyum yang sama-sama lebarnya sepertinya mereka memahami satu sama lain, Nampak serasi sekali.

“Bukanya ini fotoku, dan itu kamu? itu kita!” kucoba pejamkan mataku dan mulai mencerna keseluruhan, kuputar balik ingatan dan segala peristiwa yang ada, perlahan kebingunganku mulai terurai, kutemukan puzzle puzzle yang sempat membingungkanku, perlahan kuraih kesadaran, kucoba cerna segala keadaan, hingga bibirku mulai menyingungkan senyum, raut mukaku memerah bahagia, ada nuansa kebahagiaan dan kemenyatuan.

“Mas, mas Kenapa?” panggilnya penuh kemesraan, walau sedikit mengagetkanku.

Kuputar balik badanku, dengan senyum yang merekah, perlahan kulangkahkan kaki medekatinya, terlihat sekali raut muka binggung di wajahnya, tapi aku tidak peduli, kutetap mendekatinya.

Kucoba tetap berjalan santai dan tenang, kucoba tetap jaga keteduhan senyumkku, kuhilangkan segala raut kebingungan yang beberapa menit lalu sempat singgah, kutatap secara mendalam matanya, Nampak sekali dia binggung dan mulai malu-malu, namun aku masih terus menatapnya.

Langkahku tetap konstan, sesampainya didepanya, kupegang erat kedua tanganya, seakan tidak ingin terlepas selamanya, aku berlutut didepannya. Ku tengadahkan kepala, kutatap tajam matanya, kulebarkan senyumku diapun mulai paham dan kemudian membalas senyumku.

Aku mulai berdiri, kutatap nanar matanya, kusalurkan seluruh kebahagiaanku padanya, tanpa sekat dan tanpa tendensi apapun, yang jelas aku bahagia sekali hari ini, dan dari tatatapn matanya, kurasakan kebahagiaan yang sama padanya.

Entah siapa yang mulai, dan bagaimana memulainya kita tiba-tiba saling memeluk, kupeluk erat dia, erat sekali, serasa takut kehilangannya bahkan untuk sesaatpun, kutumpahkan segala rindu dan kebahagian, aku diam, aku membisu.

Diapun juga diam saja, pelukannya sama eratnya dengan pelukanku. Suasana menjadi sunyi, sepi, hanya dentuman jantung yang bisa kita rasakan. Sunyi ini tidak pekat, namun sangat bahagia, kisah cinta kita akhirnya bisa bersama. Semua ketakutan akan masa depan, terbayar sudah. Tuhan memang maha Segalanya.

Dan entah kenapa dan seperti apa?

Tiba-tiba lagu,

 

Monita tahalea memulai kembali mengalun,

Matahari sudah di penghujung petang
Ku lepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi kembali

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi
Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi dan ku kan memulai kembali

Pelukanku semakin erat, diapun sama, seolah-olah sama tidak inginya melepaskan dan melewatkan rasa bahagia ini, kupejamkan kedua mataku, senyumku kembali mengembang, entah karena apa, tiba-tiba tetesan air mulai mengalir dari kelopak mataku. Ini adalah tanggis bahagia, terima Kasih Tuhan, semoga segenap rasa dan bahagia ini benar-benar nyata. Aku pejamkan mata, merasai semuanya dan semua kembali seperti semula.

**

Kesadaranku kembali, dengan suasana yang berbeda namun dengan rasa yang sama, Adzan subuh mengumandang, perlahan kulangkahkan kaki musholla, mengambil wudhu dan menunaikan dua rakaat sebelum subuh. Tentu saja dengan sangat luar biasa bahagia.

Kemudian, dengan khusyuk aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga semua anganmu dan atau anganku merupakan rencana Tuhan yang memang harus di selesaikan.

Surabaya, 10/4

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Hubungi Kami

Alamat

Jl. Tenggilis Mulya 76 Surabaya

Jawatimur, 60235

Contact Us

Phone/WA : + 6281232109396

Email : contacts@company.com

JAM BUKA

SENIN – SABTU 09.00 – 22.00

JUMAT 13.00 – 22.00

Minggu 13.00 – 20.00

 

WhatsApp us whatsapp